NAMA :
SOFYAN
NPM :
17 630 109
TUGAS 1 :
STATISTIK/PROBABILITAS
TENIK
PENGAMBILAN SAMPEL DALAM METODOLOGI PENILITIAN
A. Pengertian Sampel
Definisi dan Teknik
Pengambilan Sampel. Suharsimi Arikunto mengatakan bahwa sampel adalah bagian
dari populasi (sebagian atau wakil populasi yang diteliti). Sampel penelitian
adalah sebagian populasi yang diambil sebagai sumber data dan dapat mewakili
seluruh populasi.
Sugiyono memberikan pengertian bahwa sampel
adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Bila
populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada
populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti
dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari
dari sampel itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Untuk itu,
sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif.
Prof. Sukardi berpendapat bahwa sebagian dari populasi yang dipilih untuk
sumber data dapat dijadikan atau disebut dengan sampel. Ia berpendapat demikian
karena berasumsi bahwa peneliti tidak mampu melakukan studi terhadap semua
anggota kelompok atau populasi yang menjadi daerah penelitiannya.
Namun, syarat
yang diajukan untuk pengambilan sebagian kelompok (sampel) dari suatu populasi
sebagai subyek penelitian adalah hasilnya merepresentasikan atau merefleksikan
dari keseluruhan populasi.
Adapun Tujuan Pengambilan Sampel adalah :
- Populasi terlalu banyak atau jangkauan terlalu luas sehingga tidak
memungkinkan dilakukan pengambilan data pada seluruh populasi.
- Keterbatasan tenaga, waktu, dan biaya.
- Adanya asumsi bahwa seluruh populasi seragam sehingga bisa diwakili
oleh sampel.
Tahapan Pengambilan Sample diantaranya;
- Mendefinisikan populasi yang akan diamati
- Menentukan kerangka sampel dan kumpulan semua peristiwa yang
mungkin
- Menentukan teknik atau metode sampling yang tepat
- Melakukan pengambilan sampel (pengumpulan data)
- Melakukan pemeriksaan ulang pada proses sampling
Cara Pengambilan
Sampel bermacam-macam tergantung jenis penelitian yang akan
dilakukan. Secara garis besar, metode pengambilan sampel terdiri dari 2 kelas
besar yaitu
- Probability Sampling (Random Sample)
- Non- Probability Sampling (Non-Random Sample).
Kedua jenis tersebut terdiri dari
pengambilan secara acak dan pengambilan sampel tidak acak. Kedua jenis ini juga
memiliki sub – sub lain yang diantaranya adalah purposive sampling,
snowball samping, cluster sampling dll.
B.
Probability
Sampling
Probability sampling adalah Metode pengambilan sampel
secara random atau acak. Dengan cara pengambilan sampel ini. Seluruh anggota
populasi diasumsikan memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih menjadi
sampel penelitian. Metode ini terbagi menjadi beberapa jenis yang lebih
spesifik, antara lain:
1.
Pengambilan
Sampel Acak Sederhana (Simple Random Sampling)
Pengambilan sampel acak sederhana disebut juga Simple
Random Sampling. teknik penarikan sampel menggunakan cara ini
memberikan kesempatan yang sama bagi setiap anggota populasi untuk menjadi
sampel penelitian. Cara pengambilannya menggunakan nomor undian.
Terdapat 2 pendapat mengenai metode pengambilan sampel
acak sederhana. Pendapat pertama menyatakan bahwa setiap nomor yang terpilih
harus dikembalikan lagi sehingga setiap sampel memiliki prosentase kesempatan
yang sama. Pendapat kedua menyatakan bahwa tidak diperlukan pengembalian pada
pengambilan sampel menggunakan metode ini. Namun, metode yang paling sering
digunakan adalah Simple Random
Sampling dengan pengembalian.
Kelebihan metode ini yaitu dapat mengurangi bias dan
dapat mengetahui standard error penelitian. Sementara
kekurangannya yaitu tidak adanya jaminan bahwa sampel yang terpilih benar-benar
dapat merepresentasikan populasi yang dimaksud.
Contoh Pengambilan Sampel Metode Acak
Sederhana:
Dalam suatu penelitian dibutuhkan 30 sampel, sedangkan populasi penelitian berjumlah 100 orang. Selanjutnya peneliti membuat undian untuk mendapatkan sampel pertama.
Dalam suatu penelitian dibutuhkan 30 sampel, sedangkan populasi penelitian berjumlah 100 orang. Selanjutnya peneliti membuat undian untuk mendapatkan sampel pertama.
Setelah mendapatkan sampel pertama, maka nama yang terpilih dikembalikan
lagi agar populasi tetap utuh sehingga probabilitas responden berikutnya tetap
sama dengan responden pertama. Langkah tersebut kembali dilakukan hingga jumlah
sampel memenuhi kebutuhan penelitian.
2.
Pengambilan
Sampel Acak Sistematis (Systematic Random Sampling)
Metode
pengambilan sampel acak sistematis menggunakan interval dalam memilih sampel
penelitian. Misalnya sebuah penelitian membutuhkan 10 sampel dari 100 orang,
maka jumlah kelompok intervalnya 100/10=10. Selanjutnya responden dibagi ke
dalam masing-masing kelompok lalu diambil secara acak tiap kelompok.
Contoh Sampel Acak Sistematis adalah pengambilan sampel pada
setiap orang ke-10 yang datang ke puskesmas. Jadi setiap orang yang datang di
urutan 10,20,30 dan seterusnya maka itulah yang dijadikan sampel penelitian.
3.
Pengambilan
Sampel Acak Berstrata (Stratified Random Sampling)
Metode
Pengambilan sampel acak berstrata mengambil sampel berdasar tingkatan tertentu.
Misalnya penelitian mengenai motivasi kerja pada manajer tingkat atas, manajer
tingkat menengah dan manajer tingkat bawah. Proses pengacakan diambil dari
masing-masing kelompok tersebut.
4.
Pengambilan
Sampel Acak Berdasar Area (Cluster Random Sampling)
Cluster Sampling
adalah teknik sampling secara berkelompok. Pengambilan sampel jenis ini
dilakukan berdasar kelompok / area tertentu. Tujuan metode Cluster Random Sampling antara
lain untuk meneliti tentang suatu hal pada bagian-bagian yang berbeda di dalam
suatu instansi.
Misalnya,
penelitian tentang kepuasan pasien di ruang rawat inap, ruang IGD, dan ruang
poli di RS A dan lain sebagainya.
5.
Teknik
Pengambilan Sampel Acak Bertingkat (Multi Stage Sampling)
Proses
pengambilan sampel jenis ini dilakukan secara bertingkat. Baik itu bertingkat
dua, tiga atau lebih.
Misalnya
-> Kecamatan -> Gugus -> Desa -> RW – RT
1.
Purposive
Sampling
Purposive Sampling adalah teknik sampling yang
cukup sering digunakan. Metode ini menggunakan kriteria yang telah dipilih oleh
peneliti dalam memilih sampel. Kriteria pemilihan sampel terbagi menjadi
kriteria inklusi dan eksklusi.
Kriteria inklusi merupakan kriteria sampel yang diinginkan peneliti
berdasarkan tujuan penelitian. Sedangkan kriteria eksklusi merupakan kriteria
khusus yang menyebabkan calon responden yang memenuhi kriteria inklusi harus
dikeluarkan dari kelompok penelitian. Misalnya, calon responden mengalami
penyakit penyerta atau gangguan psikologis yang dapat memengaruhi hasil
penelitian.
Contoh Purposive Sampling: penelitian tentang nyeri pada
pasien diabetes mellitus yang mengalami luka pada tungkai kaki. Maka kriteria
inklusi yang dipakai antara lain:
- Penderita Diabetes Melitus dengan luka gangrene
(luka pada tungkai kaki)
- Usia 18-59 tahun
- Bisa membaca dan menulis
Kriteria eksklusi:
- Penderita Diabetes Melitus yang memiliki penyakit
penyerta lainnya seperti gangguan ginjal, gagal jantung, nefropati, dan
lain sebagainya.
- Penderita Diabetes Melitus yang mengalami
gangguan kejiwaan.
3.
Snowball
Sampling
Snowball Sampling adalah teknik pengambilan
sampel berdasarkan wawancara atau korespondensi. Metode ini meminta informasi
dari sampel pertama untuk mendapatkan sampel berikutnya, demikian secara terus
menerus hingga seluruh kebutuhan sampel penelitian dapat terpenuhi.
Metode
pengambilan sampel Snowball atau
Bola salju ini sangat cocok untuk penelitian mengenai hal-hal yang sensitif dan
membutuhkan privasi tingkat tinggi, misalnya penelitian tentang kaum waria,
penderita HIV, dan kelompok khusus lainnya.
2.
Accidental
Sampling
Pada metode penentuan sampel tanpa sengaja (accidental) ini, peneliti
mengambil sampel yang kebetulan ditemuinya pada saat itu. Penelitian ini cocok
untuk meneliti jenis kasus penyakit langka yang sampelnya sulit didapatkan.
Contoh
penggunan metode ini, peneliti ingin meneliti tentang penyakit Steven Johnson
Syndrom yaitu penyakit yang merusak seluruh mukosa atau lapisan tubuh akibat
reaksi tubuh terhadap antibiotik.
Kasus Steven Johnson
Syndrome ini cukup langka dan sulit sekali menemukan kasus
tersebut. Dengan demikian, peneliti mengambil sampel saat itu juga, saat
menemukan kasus tersebut. Kemudian peneliti melanjutkan pencarian sampel hingga
periode tertentu yang telah ditentukan oleh peneliti.
Tehnik
pengambilan sampel dengan cara ini juga cocok untuk penelitian yang bersifat
umum, misalnya seorang peneliti ingin meneliti kebersihan Kota Bandung.
Selanjutnya dia menanyakan tentang kebersihan Kota Bandung pada warga Bandung
yang dia temui saat itu.
3.
Quota
Sampling
Metode pengambilan sampel ini disebut juga Quota Sampling. Tehnik sampling ini mengambil
jumlah sampel sebanyak jumlah yang telah ditentukan oleh peneliti. Kelebihan
metode ini yaitu praktis karena sampel penelitian sudah diketahui sebelumnya,
sedangkan kekurangannya yaitu bias penelitian cukup tinggi jika menggunakan
metode ini.
Teknik
pengambilan sampel dengan cara ini biasanya digunakan pada penelitian yang
memiliki jumlah sampel terbatas. Misalnya, penelitian pada pasien lupus atau
penderita penyakit tertentu. Dalam suatu area terdapat 10 penderita lupus, maka
populasi tersebut dijadikan sampel secara keseluruhan , inilah yang disebut
sebagai Total Quota Sampling.
4.
Teknik
Sampel Jenuh
Teknik Sampling Jenuh adalah teknik penentuan sampel yang menjadikan
semua anggota populasi sebagai sampel. dengan syarat populasi yang ada kurang
dari 30 orang.
No comments:
Post a Comment