NPM : 17 630 084
PERTEMUAN 2
Konsep dan analisa metode
pengambilan sempel.
Berikut
ini keterangan-keterangan mengenai sampel tersebut di atas.
a. Probability Sampling
Probability Sampling adalah
teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur
(anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel.
1.
Simple random sampling
Soal
:
Arisan di adakan dirumah ibu yuni dan populasinya
ada 10 0rang dan dipilih 2 orang dari populasi tersebut untuk memenangkan
arisan tersebut. Langkah langkah untuk menentukan 2 orang pemenang tersebut
adalah sebagai berikut.
Jawab :
Nama-nama 10 orang yang akan dipilih secara acak/random
yaitu:
1. yanti
2. mega
3. siska
4. amel
5. melly
6. arsan
7. mawar
8. samsudin
9. jail
10. eti
Cara
sederhana menggunakan simple random sampling yaitu dengan menggunakan system
kocokkan. Buat potongan kecil kertas sebanyak 10 potongan, tulis nama 10 orang
tersebut dalam setiap potongan kertas (kertas 1 = yanti dan seterusnya sampai
dengan kertas ke 10 = eti). Gulung tiap potongan tersebut menjadi bentuk
sedotan, lalu masukkan kedalam media (botol) yang sudah di lubangi penutupnya,
lakukan pengocokan, potongan kertas yang keluar adalah sampel yang kita pilih
ulangi sampai 2 kocokkan (karena kita membutuhkan sampel sebanyak 2 orang)
2. Proportionate
stratified random sampling
Soal :
Populasi
adalah karyawan PT. XYZ berjumlah 125. Dengan tingkat kesalahan 5% diperoleh
besar sampel adalah 95. Populasi sendiri terbagi ke dalam tiga bagian
(marketing, produksi dan penjualan) yang masing-masing berjumlah :
Marketing
: 15
Produksi : 75
Penjualan : 35
Penjualan : 35
Jawab :
Maka
jumlah sample yang diambil berdasarkan masing-masing bagian tersebut ditentukan
kembali dengan rumus n = (populasi kelas / jml populasi keseluruhan) x jumlah
sampel yang ditentukan
Marketing
: 15 / 125 x
95 = 11,4
dibulatkan 11
Produksi :
75 / 125 x 95
= 57
Penjualan : 35 / 125 x 95 = 26.6 dibulatkan 27
Penjualan : 35 / 125 x 95 = 26.6 dibulatkan 27
Sehingga
dari keseluruhan sample kelas tersebut adalah 11 + 57 + 27 = 95 sampel.
\
3.
Disproportionate Stratified Random Sampling
Soal
:
Populasi
karyawan PT. XYZ berjumlah 1000 orang yang berstrata berdasarkan tingkat
pendidikan SMP, SMA, DIII, S1 dan S2. Namun jumlahnya sangat tidak seimbang
yaitu :
SMP : 100
orang
SMA
: 700 orang
DIII : 180 orang
S1 : 10 orang
S2 : 10 orang
DIII : 180 orang
S1 : 10 orang
S2 : 10 orang
Jawab :
Jumlah
karyawan yang berpendidikan S1 dan S2 ini sangat tidak seimbang (terlalu kecil
dibandingkan dengan strata yang lain) sehingga dua kelompok ini seluruhnya
ditetapkan sebagai sampel.
4.
Cluster Sampling
Soal
:
Peneliti
ingin mengetahui tingkat efektivitas proses belajar mengajar di tingkat SMA.
Populasi penelitian adalah siswa SMA seluruh Indonesia. Karena jumlahnya sangat
banyak dan terbagi dalam berbagai provinsi, maka penentuan sampelnya dilakukan
dalam tahapan sebagai berikut :
Jawab :
1. Menentukan sample daerah.
Misalnya ditentukan secara acak 10 Provinsi yang akan dijadikan daerah sampel.
2. Mengambil sampel SMA di
tingkat Provinsi secara acak yang selanjutnya disebut sampel provinsi. Karena
provinsi terdiri dari Kabupaten/Kota, maka diambil secara acak SMA tingkat
Kabupaten yang akan ditetapkan sebagai sampel (disebut Kabupaten Sampel), dan
seterusnya, sampai tingkat kelurahan / Desa yang akan dijadikan sampel. Setelah
digabungkan, maka keseluruhan SMA yang dijadikan sampel ini diharapkan akan
menggambarkan keseluruhan populasi secara keseluruhan.
5.
Multi
stage random sampling
Soal :
Suatu
daerah, mempunyai 90 sekolah yang terbaik, sekolah tersebut ingin
mempunyai lulusan yang berkualitas dan diterima di sekolah yang baik. Oleh
karena sekolah letaknya berjauhan satu sama lain secara geografis, maka
diputuskan untuk menggunakan sekolah sebagai kelompok (cluster) dan siswa sebagai elemennya. Oleh karena setiap sekolah
terdapat banyak siswa, akan tidak praktis kalau harus memeriksa catatan
mengenai masalah setiap siswanya. Maka dari itu diputuskan untuk menggunakan
sampling dua tingkat, yaitu pertama memilih sampel sekolah, kemudian kedua
memilih sampel siswa dari sekolahyang telah terpilih. Untuk keperluan ini
dipilih sampel sebanyak n = 10 sekolah, kemudian dari setiap sekolah yang
terpilih, dipilih sampel siswa sebanyak .
Dengan menggunakan data dari tabel berikut, dibuatlah perkiraan
rata-rata waktu siswa dan hitung juga samplingnya. Pergunakan tingkat keyakinan
95%. Diketahui dari seluruh sekolah terdapat 4.500 siswa.
No.
|
Mi
|
mi
|
Lamanya
(waktu masalah) dalam jam
|
Xi
|
S2 i
|
1
|
50
|
10
|
5,7,9,11,2,8,4,3,5
|
5,40
|
11,38
|
2
|
65
|
13
|
4,3,7,2,11,9,1,9,4,3,2,1,5
|
4,00
|
10,67
|
3
|
45
|
9
|
5,6,4,11,12,0,1,8,4
|
5,67
|
16,75
|
4
|
48
|
10
|
6,4,0,1,0,9,8,4,6,10
|
4,80
|
13,29
|
5
|
52
|
10
|
11,4,3,1,0,2,8,6,5,3
|
4,30
|
11,12
|
6
|
58
|
12
|
12,11,3,4,2,0,0,1,4,3,2,4
|
3,83
|
14,88
|
7
|
42
|
8
|
3,7,6,7,8,4,3,2
|
5,00
|
5,14
|
8
|
66
|
13
|
3,6,4,3,2,2,8,4,0,4,5,6,3
|
3,85
|
4,31
|
9
|
40
|
8
|
6,4,7,3,9,1,4,5
|
4,88
|
6,13
|
10
|
56
|
11
|
6,7,5,10,11,2,1,4,0,5,4
|
5,00
|
11,80
|
Jawab
=
=
2
=
768,38
dan
=
=
0,037094.
rata-rata
banyaknya siswa persekolah.
Kesalahan
sampling = KS = B = 2 = 2
Nilai
Batas Bawah U = Û – 2Sû = 4,80 – 0,38 = 4,42
Nilai
Batas Atas U = Û – 2Sû = 4,80 + 0,38 = 5,18
Jadi dengan tingkat keyakinan 95% diharapkan interval antara 4,42
jam sampai dengan 5,18 jam akan memuat rata-rata waktu masalah persiswa.
Seperti halnya dalam sampling acak sederhana, di mana jumlah
perkiraan = T = XN, maka dalam sampling dua tingkat, T = Û M, di mana U =
rata-rata perkiraan per elemen (rata-rata waktu masalah per siswa)
Perkiraan total.
= M = N
Perkiraan varian (T)
= M2 S2û
=[ ] S2b + [ ]
Kesalahan
sampling = KS = B
KS = 2 = 2
Perhatikan bahwa membuat perkiraan total (Ť) dan varian (Ť)
ternyata tidak memerlukan M sebab M akan lenyap dalam proses pembentukan rumus.
b. Nonprobability Sampling
Nonprobability Sampling adalah teknik pengambilan
sampel yang tidak memberi peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau
anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik sampel ini meliputi, sampling sistematis, kuota,
aksidental, purposive, jenuh, snowball.
1. Sampling Sistematis
Sampling sistematis adalah
teknik sampling yang menggunakan nomor urut dari populasi baik yang berdasarkan
nomor yang ditetapkan sendiri oleh peneliti maupun nomor identitas tertentu,
ruang dengan urutan yang seragam atau pertimbangan sistematis lainnya.
Soal jawab :
Akan
diambil sampel dari populasi karyawan yang berjumlah 125. Karyawan ini
diurutkan dari 1–125 berdasarkan absensi. Peneliti bisa menentukan sampel yang
diambil berdasarkan nomor genap (2, 4, 6, dan seterusnya) atau nomor ganjil (1,
2, 3, dan seterusnya), atau bisa juga mengambil nomor kelipatan (2, 4, 8, 16,
dan seterusnya).
2. Sampling Kuota
Soal
jawab:
Misalnya
akan dilakukan penelitian tentang persepsi siswa terhadap kemampuan mengajar
guru. Jumlah Sekolah adalah 10, maka sampel kuota dapat ditetapkan
masing-masing 10 siswa per sekolah.
3. Sampling Incidential
Soal
jawab:
Misalnya
penelitian tentang kepuasan pelanggan pada pelayanan Mall A. Sampel ditentukan
berdasarkan ciri-ciri usia di atas 15 tahun dan baru pernah ke Mall A tersebut,
maka siapa saja yang kebetulan bertemu di depan Mall A dengan peneliti (yang
berusia di atas 15 tahun) akan dijadikan sampel.
4. Purposive Sampling
Soal jawab:
Misalnya, peneliti ingin meneliti permasalahan
seputar daya tahan mesin tertentu. Maka sampel ditentukan adalah para teknisi
atau ahli mesin yang mengetahui dengan jelas permasalahan ini atau penelitian
tentang pola pembinaan olahraga renang. Maka sampel yang diambil adalah
pelatih-pelatih renang yang dianggap memiliki kompetensi di bidang ini. Teknik ini
biasanya dilakukan pada penelitian kualitatif.
5. Sampling Jenuh
Soal
jawab:
Misalnya
akan dilakukan penelitian tentang kinerja guru di SMA XXX Jakarta. Karena
jumlah guru hanya 35, maka seluruh guru dijadikan sampel penelitian
6. Snowball Sampling
Soal
jawab:
Misalnya
akan dilakukan penelitian tentang pola peredaran narkoba di wilayah A. Sampel
mula-mula adalah 5 orang narapidana, kemudian terus berkembang pada pihak-pihak
lain sehingga sampel atau responden terus berkembang sampai ditemukannya
informasi yang menyeluruh atas permasalahan yang diteliti.
Pengenalan
dan pengoperasian pengambilan sampel
Untuk
memudahkan pemahaman kita mengenai bagaimana cara penarikan sampel serta cara
memperoleh sampel yang refresentatif maka ada beberapa langkah atau prosedur
dalam melakukan pengambilan sampel. menyebutkan bahwa dalam
melakukan pengambilan sampel, dapat dilakukan langkah-langkah berikut,
diantaranya: (1) Menentukan populasi target, (2) Membuat kerangka sampling, (3)
Menentukan ukuran sampel, (4) Menentukan teknik dan rencana pengambilan sampel,
(5) Melakukan pengambilan sampel.
Berdasarkan pendapat di atas, maka langkah-langkah
penarikan sampel dapat kita uraikan sebagai berikut: (1) Pertama yang harus
ditentukan dalam langkah mendesain penarikan sampel adalah menentukan populasi
sasaran dengan tegas, yang dilanjutkan dengan penentuan populasi studi dari
populasi sasaran tadi. (2) Menentukan area populasi, hal ini berkaitan dengan
data penelitian yang akan dijadikan lokasi penelitian. (3) Menentukan ukuran
populasi (size of population)
sebagai dasar untuk menarik sampel. Biasanya populasi diambil dari data sensus.
Carilah data tersebut secara lengkap, dapatkan data yang akurat dan up to date. (4) Buatlah kerangka
sampling dengan memasukan data dari populasi studi secara lengkap dan jelas,
serta hal yang terpenting adalah satuan-satuan sampling diberi nomor sesuai
dengan jumlah digit populasinya, secara berurutan dari nomor paling kecil
sampai dengan nomor yang paling besar. (5) Tentukan ukuran sampel dengan
menggunakan rumus-rumus yang sesuai. (6) Gunakan tabel angka random ataupun
program komputer sebagai alat seleksi. (7) Satuan sampling terpilih sebagai
anggota sampel, merupakan langkah terakhir dari desain sampling yang pada
hakikatnya merupakan cerminan dari populasi.
No comments:
Post a Comment