NAMA : SYAFRIADIN
NPM : 17 630 110
TUGAS 01 : STATISTIK/PROBABILITAS
TEKNIK
PENGAMBILAN SAMPEL DALAM METODOLOGI PENELITIAN
1. Probability Sampling
(Sugiyono, 2001: 57) menyatakan
bahwa probability sampling adalah teknik sampling yang memberikan peluang yang
sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel.
Teknik sampel ini meliputi:
a. Simple Random Sampling
Menurut (Sugiyono, 2001: 57)
dinyatakan simple (sederhana) karena pengambilan sampel anggota populasi
dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu.
(Margono, 2004: 126) menyatakan bahwa simple random sampling adalah teknik
untuk mendapatkan sampel yang langsung dilakukan pada unit sampling. Dengan
demikian setiap unit sampling sebagai unsur populasi yang terpencil memperoleh
peluang yang sama untuk menjadi sampel atau untuk mewakili populasi. Cara
demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen. Teknik ini dapat
dipergunakan bilamana jumlah unit sampling di dalam suatu populasi tidak
terlalu besar. Misal, populasi terdiri dari 500 orang mahasiswa program S1
(unit tampling). Untuk memperoleh sampel sebanyak 150 orang dari populasi
tersebut, digunakan teknik ini, baik dengan cara undian, ordinal, maupun tabel
bilangan random.
b.Proportionate Stratified Random
Sampling
(Margono, 2004: 126) menyatakan bahwa stratified random sampling biasa digunakan pada populasi yang mempunyai susunan bertingkat atau berlapis-lapis. Menurut (Sugiyono, 2001: 58) teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak homogen. Dan berstrata secara proporsional. Suatu organisasi yang mempunyai pegawai dari berbagai latar belakang pendidikan, maka populasi pegawai itu berstrata. Misalnya jumlah pegawai yang lulus S1 = 45, S2 = 30, STM = 800, ST = 900, SMEA = 400, SD = 300. Jumlah sampel yang harus diambil meliputi strata pendidikan tersebut yang diambil secara proporsional jumlah sampel.
(Margono, 2004: 126) menyatakan bahwa stratified random sampling biasa digunakan pada populasi yang mempunyai susunan bertingkat atau berlapis-lapis. Menurut (Sugiyono, 2001: 58) teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak homogen. Dan berstrata secara proporsional. Suatu organisasi yang mempunyai pegawai dari berbagai latar belakang pendidikan, maka populasi pegawai itu berstrata. Misalnya jumlah pegawai yang lulus S1 = 45, S2 = 30, STM = 800, ST = 900, SMEA = 400, SD = 300. Jumlah sampel yang harus diambil meliputi strata pendidikan tersebut yang diambil secara proporsional jumlah sampel.
c. Disproportionate Stratified
Random Sampling
(Sugiyono, 2001: 59) menyatakan bahwa teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel bila populasinya berstrata tetapi kurang proporsional. Misalnya pegawai dari PT tertentu mempunyai mempunyai 3 orang lulusan S3, 4 orang lulusan S2, 90 orang lulusan S1, 800 orang lulusan SMU, 700 orang lulusan SMP, maka 3 orang lulusan S3 dan empat orang S2 itu diambil semuanya sebagai sampel. Karena dua kelompok itu terlalu kecil bila dibandingkan denan kelompok S1, SMU dan SMP.
(Sugiyono, 2001: 59) menyatakan bahwa teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel bila populasinya berstrata tetapi kurang proporsional. Misalnya pegawai dari PT tertentu mempunyai mempunyai 3 orang lulusan S3, 4 orang lulusan S2, 90 orang lulusan S1, 800 orang lulusan SMU, 700 orang lulusan SMP, maka 3 orang lulusan S3 dan empat orang S2 itu diambil semuanya sebagai sampel. Karena dua kelompok itu terlalu kecil bila dibandingkan denan kelompok S1, SMU dan SMP.
d. Cluste Sampling (Area
Sampling)
Teknik ini disebut juga cluster random sampling. Menurut (Margono, 2004: 127), teknik ini digunakan bilamana populasi tidak terdiri dari individu-individu, melainkan terdiri dari kelompok-kelompok individu ataucluster. Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila objek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misalnya penduduk dari suatu negara, propinsi atau kabupaten. Untuk menentukan penduduk mana yang akan dijadikan sumber data, maka pengambilan sampelnya berdasarkan daerah populasi yang telah ditetapkan.
(Sugiyono, 2001: 59) memberikan contoh, di Indonesia terdapat 27 propinsi, dan sampelnya akan menggunakan 10 propinsi, maka pengambilan 10 propinsi itu dilakukan secara random. Tetapi perlu diingat, karena propinsi-propinsi di Indonesia itu berstrata maka pengambilan sampelnya perlu menggunakan stratified random sampling. Contoh lainnya dikemukakan oleh (Margono, 2004: 127). Ia mencotohkan bila penelitian dilakukan terhadap populai pelajar SMU di suatu kota. Untuk random tidak dilakukan langsung pada semua pelajar-pelajar, tetapi pada sekolah/kelas sebagai kelompok atau cluster.
Teknik sampling daerah ini sering digunakan melalui dua tahap, yaitu tahap pertama menentukan sampel daerah, dan tahap berikutnya
Teknik ini disebut juga cluster random sampling. Menurut (Margono, 2004: 127), teknik ini digunakan bilamana populasi tidak terdiri dari individu-individu, melainkan terdiri dari kelompok-kelompok individu ataucluster. Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila objek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misalnya penduduk dari suatu negara, propinsi atau kabupaten. Untuk menentukan penduduk mana yang akan dijadikan sumber data, maka pengambilan sampelnya berdasarkan daerah populasi yang telah ditetapkan.
(Sugiyono, 2001: 59) memberikan contoh, di Indonesia terdapat 27 propinsi, dan sampelnya akan menggunakan 10 propinsi, maka pengambilan 10 propinsi itu dilakukan secara random. Tetapi perlu diingat, karena propinsi-propinsi di Indonesia itu berstrata maka pengambilan sampelnya perlu menggunakan stratified random sampling. Contoh lainnya dikemukakan oleh (Margono, 2004: 127). Ia mencotohkan bila penelitian dilakukan terhadap populai pelajar SMU di suatu kota. Untuk random tidak dilakukan langsung pada semua pelajar-pelajar, tetapi pada sekolah/kelas sebagai kelompok atau cluster.
Teknik sampling daerah ini sering digunakan melalui dua tahap, yaitu tahap pertama menentukan sampel daerah, dan tahap berikutnya
Menurut (Sugiyono, 2001: 60)
nonprobability sampling adalah teknik yang tidak memberi peluang/kesempatan
yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel.
Teknik Pengambilan
Sampel :
Nonprobability Sampling
Pengertian
Nonprobability Sampling atau Definisi Nonprobability
Sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak
memberi peluang atau kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk
dipilih menjadi sampel. Teknik Sampling Nonprobality ini meliputi : Sampling
Sistematis, Sampling Kuota, Sampling Insidental, Purposive Sampling, Sampling
Jenuh, Snowball Sampling.
1.
Sampling Sistematis
Pengertian
Sampling Sistematis atau Definisi Sampling Sistematis
adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan urutan dari anggota
populasi yang telah diberi nomor urut.Contoh Sampling Sistematis, anggota
populasi yang terdiri dari 100 orang, dari semua semua anggota populasi itu
diberi nomor urut 1 sampai 100. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan
mengambil nomor ganjil saja, genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu,
misalnya kelipatan dari bilangan lima. Untuk itu maka yang diambil sebagai
sampel adalah nomor urut 1, 5, 10, 15, 20 dan seterusnya sampai 100.
2.
Sampling Kuota
Pengertian
Sampling Kuota atau Definisi Sampling Kuota adalah teknik untuk
menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah
kuota yang diinginkan.Contoh Sampling Kuota, akan melakukan penelitian
tentang Karies Gigi, jumlah sampel yang ditentukan 500 orang, jika
pengumpulan data belum memenuhi kuota 500 orang tersebut, maka penelitian
dipandang belum selesai. Bila pengumpulan data dilakukan secara kelompok yang
terdiri atas 5 orang pengumpul data, maka setiap anggota kelompok harus dapat
menghubungi 100 orang anggota sampel, atau 5 orang tersebut harus dapat mencari
data dari 500 anggota sampel.
3.
Sampling Insidental
Pengertian
Sampling Insidental atau Definisi Sampling Insidental
adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja
yang secara kebetulan atau insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan
sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai
sumber data.
4.
Purposive Sampling
Pengertian
Purposive Sampling atau Definisi Purposive Sampling
adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Contoh
Purposive Sampling, akan melakukan penelitian tentang kualitas makanan, maka
sampel sumber datanya adalah orang yang ahli makanan. Sampel ini lebih cocok
digunakan untuk Penelitian Kualitatif atau penelitian yang tidak
melakukan generalisasi.
5.
Sampling Jenuh (Sensus)
Pengertian
Sampling Jenuh atau Definisi Sampling Jenuh adalah teknik
penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini
sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang, atau
penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil.
6.
Snowball Sampling
Pengertian
Snowball Sampling atau Definisi Snowball Sampling adalah teknik
penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian membesar.
Ibarat bola salju yang menggelinding yang lama-lama menjadi besar.
Dalam penentuan sampel, pertama-tama dipilih satu atau dua orang sampel, tetapi
karena dengan dua orang sampel ini belum merasa lengkap terhadap data yang
diberikan, maka peneliti mencari orang lain yang dipandang lebih tahu dan dapat
melengkapi data yang diberikan oleh dua orang sampel sebelumnya. Begitu
seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin banyak. Pada penelitian kualitatif
banyak menggunakan sampel Purposive dan Snowball. Contohnya akan meneliti siapa
provokasi kerusuhan, maka akan cocok menggunakan Purposive
Sampling dan Snowball Sampling.
Cara
Pengambilan Sampel dengan Probabilitas Sampling Ada empat macam teknik
pengambilan sampel yang termasuk dalam teknik pengambilan sampel dengan
probabilitas sampling. Keempat teknik tersebut, yaitu cara acak, stratifikasi,
klaster, dan sistematis.
Teknik
memilih secara acak dapat dilakukan baik dengan manual atau tradisional maupun
dengan menggunakan tabel random.
1.
Cara Tradisional
Cara
tradisional ini dapat dilihat dalam kumpulan ibu-ibu ketika arisan. Teknik acak
ini dapat dilakukan dengan langkah-langkah seperti berikut:
1.
Tentukan jumlah populasi yang dapat
ditemui
2.
Daftar semua anggota dalam populasi,
masukkan dalam kotak yang telah diberi lubang penarikan
3.
Kocok kotak tersebut dan keluarkan lewat
lubang pengeluaran yang telah dibuat
4.
Nomor anggota yang keluar adalah mereka
yang ditunjuk sebagai sampel penelitian
5. Lakukan
terus sampai jumlah yang diinginkan dapat dicapai.
2.
Menggunakan Tabel Acak
Pada
cara kedua ini, proses pemilihan subjek dilakukan dengan menggunakan tabel yang
dihasilkan oleh komputer dan telah diakui manfaatnya dalam teori penelitian.
Tabel tersebut umumnya terdiri dari kolom dan angka lima digit yang telah
secara acak dihasilkan oleh komputer.
Dengan
menggunakan tabel tersebut, angka-angka yang ada digunakan untuk memilih sampel
dengan langkah sebagai berikut:
1.
identifikasi jumlah total populasi
2.
tentukan jumlah sampel yang diinginkan
3.
daftar semua anggota yang masuk sebagai
populasi
4.
berikan semua anggota dengan nomor kode
yang diminta, misalnya: 000-299 untuk populasi yang berjumlah 300 orang, atau
00-99 untuk jumlah populasi 100 orang
5.
pilih secara acak (misalnya tutup mata)
dengan menggunakan penunjuk pada angka yang ada dalam tabel
6.
pada angka-angka yang terpilih, lihat
hanya angka digit yang tepat yang dipilih. Jika populasi 500 maka hanya 3 digit
dari akhir saja. Jika populasi mempunyai anggota 90 maka hanya diperlukan dua
digit dari akhir saja
7.
jika angka dikaitkan dengan angka
terpilih untuk individual dalam populasi menjadi individu dalam sampel. Sebagai
contoh, jika populasinya berjumlah 500, maka angka terpilih 375 masuk sebagai
individu sampel. Sebaliknya jika populasi hanya 300, maka angka terpilih 375
tidak termasuk sebagai individu sampel
8.
gerakan penunjuk dalam kolom atau angka
lain
9.
ulangi langkah nomor 8 sampai jumlah
sampel yang diinginkan tercapai. Ketika jumlah sampel yang diinginkan telah
tercapai maka langkah selanjutnya adalah membagi dalam kelompok kontrol dan
kelompok perlakuan sesuai dengan bentuk desain penelitian.
Contoh
Memilih Sampel dengan Sampling Acak Seorang kepala sekolah ingin melakukan studi
terhadap para siswa yang ada di sekolah. Populasi siswa SMK ternyata jumlahnya
600 orang. Sampel yang diinginkan adalah 10% dari populasi. Dia ingin
menggunakan teknik acak, untuk mencapai hal itu, dia menggunakan
langkah-langkah untuk memilih sampel seperti berikut. Populasi yang jumlahnya
600 orang diidentifikasi. Sampel yang diinginkan 10% x 600 = 60 orang. Populasi
didaftar dengan diberikan kode dari 000-599. Tabel acak yang berisi angka
random digunakan untuk memilih data dengan menggerakkan data sepanjang kolom
atau baris dari tabel. Misalnya diperoleh sederet angka seperti berikut: 058
710 859 942 634 278 708 899 Oleh karena jumlah populasi 600 orang maka dua
angka terpilih menjadi sampel yaitu: 058 dan 278. Coba langkah d sampai
diperoleh semua jumlah 60 responden.
3.
Teknik Stratifikasi
Dalam
penelitian pendidikan maupun penelitian sosial lainnya, sering kali ditemui
kondisi populasi yang ada terdiri dari beberapa lapisan atau kelompok
individual dengan karakteristik berbeda. Di sekolah, misalnya ada kelas satu,
kelas dua, dan kelas tiga. Mereka juga dapat dibedakan menurut jenis kelamin
responden menjadi kelompok laki-laki dan kelompok perempuan. Di masyarakat,
populasi dapat berupa kelompok masyarakat, misalnya petani, pedagang, pegawai
negeri, pegawai swasta, dan sebagainya. Keadaan populasi yang demikian akan
tidak tepat dan tidak terwakili; jika digunakan teknik acak. Karena hasilnya
mungkin satu kelompok terlalu banyak yang terpilih sebagai sampel, sebaliknya
kelompok lain tidak terwakili karena tidak muncul dalam proses pemilihan.
Teknik
yang paling tepat dan mempunyai akurasi tinggi adalah teknik sampling dengan
cara stratifikasi. Teknik stratifikasi ini harus digunakan sejak awal, ketika
peneliti mengetahui bahwa kondisi populasi terdiri atas beberapa anggota yang
memiliki stratifikasi atau lapisan yang berbeda antara satu dengan lainnya.
Ketepatan teknik stratifikasi juga lebih dapat ditingkatkan dengan menggunakan
proporsional besar kecilnya anggota lapisan dari populasi ditentukan oleh besar
kecilnya jumlah anggota populasi dalam lapisan yang ada.
Seperti
halnya teknik memilih sampel secara acak, teknik stratifikasi juga mempunyai
langkah-langkah untuk menentukan sampel yang diinginkan. Langkah-langkah
tersebut dapat dilihat seperti berikut : Identifikasi jumlah total populasi.
Tentukan jumlah sampel yang diinginkan. Daftar semua anggota yang termasuk
sebagai populasi. Pisahkan anggota populasi sesuai dengan karakteristik lapisan
yang dimiliki. Pilih sampel dengan menggunakan prinsip acak seperti yang telah
dilakukan dalam teknik random di atas. Lakukan langkah pemilihan pada setiap
lapisan yang ada. Sampai jumlah sampel dapat dicapai.
Contoh
menentukan sampel dengan teknik stratifikasi Seorang peneliti ingin melakukan
studi dari suatu populasi guru SMK yang jumlahnya 900 orang, sampel yang
diinginkan adalah 10% dari populasi. Dalam anggota populasi ada tiga lapisan
guru, mereka adalah yang mempunyai golongan dua, golongan tiga, dan golongan
empat. Dia ingin memilih sampel dengan menggunakan teknik stratifikasi.
Terangkan langkah-langkah guna mengambil sampel dengan menggunakan teknik
stratifikasi tersebut. Jawabannya adalah sebagai berikut. Jumlah total populasi
adalah 900 orang. Daftar semua anggota yang termasuk sebagai populasi dengan nomor
000-899. Bagi populasi menjadi tiga lapis, dengan setiap lapis terdiri 300
orang. Undilah sampel yang diinginkan 30% x 900 = 270 orang. Setiap lapis
mempunyai anggota 90 orang. untuk lapisan pertama gerakan penunjuk (pensil)
dalam tabel acak. Dan pilih dari angka tersebut dan ambil yang memiliki nilai
lebih kecil dari angka 899 sampai akhirnya diperoleh 90 subjek. Lakukan langkah
6 dan 7 untuk Iapis kedua dan ketiga sampai total sampel diperoleh jumlah 270
orang.
4.
Teknik Klaster
Teknik
klaster merupakan teknik memilih sampel lainnya dengan menggunakan prinsip
probabilitas. Teknik ini mempunyai sedikit perbedaan jika dibandingkan dengan
kedua teknik yang telah dibahas di atas. Teknik klaster atau Cluster Sam¬pling
ini memilih sampel bukan didasarkan pada individual, tetapi lebih didasarkan
pada kelompok, daerah, atau kelompok subjek yang secara alami berkumpul
bersama. Teknik klaster sering digunakan oleh para peneliti di lapangan yang
wilayahnya mungkin luas. Dengan menggunakan teknik klaster ini, mereka lebih
dapat menghemat biaya dan tenaga dalam menemui responden yang menjadi subjek
atau objek penelitian.
Memilih
sampel dengan menggunakan teknik klaster ini mempunyai beberapa langkah seperti
berikut:
1.
Identifikasi populasi yang hendak
digunakan dalam studi
2.
Tentukan besar sampel yang diinginkan.
3.
Tentukan dasar logika untuk menentukan
klaster.
4.
Perkirakan jumlah rata-rata subjek yang
ada pada setiap klaster.
5.
Daftar semua subjek dalam setiap klaster
dengan membagi antara jurnlah sampel dengan jumlah klaster yang ada.
6.
Secara random, pilih jumlah angggota
sampel yang diinginkan untuk setiap klaster.
7.
Jumlah sampel adalah jumlah klaster
dikalikan jumlah anggota populasi per klaster.
Contoh
terapan pemilihan sampel dengan menggunakan teknik klasterMisalkan seorang
peneliti hendak melakukan studi pada populasi yang jumlahnya 4.000 guru dalam
100 sekolah yang ada. `Sampel yang diinginkan adalah 400 orang. Cara yang
digunakan adalah teknik sampel secara klaster dengan sekolah sebagai dasar
penentuan logis klaster yang ada. Bagaimanakah langkah menentukan sampel
tersebut?
Jawabannya
adalah sebagai berikut. Total populasi adalah 4.000 orang. Jumlah sampel yang
diinginkan 400 orang. Dasar logis klaster adalah sekolah yang jumlahnya ada
100. Dalam populasi, setiap sekolah adalah 4.000/100 = 40 guru setiap sekolah.
Jumlah klaster yang ada adalah 400/40 = 10. Oleh karena itu, 10 sekolah di
antara 100 sekolah dipilih secara random. Jadi, semua guru yang ada dalam 10
sekolah sama dengan jumlah sampel yang diinginkan.
5.
Teknik Secara Sistematis
Teknik
memilih sampel yang keempat adalah teknik sistematis atau systematic sampling.
Teknik pemilihan ini menggunakan prinsip proporsional. Caranya ialah dengan
menentukan pilihan sampel pada setiap 1/k, di mana k adalah suatu angka pembagi
yang telah ditentukan misalnya 5,6 atau 10. Syarat yang perlu diperhatikan oleh
para peneliti adalah adanya daftar atau list semua anggota populasi. Untuk
populasi yang didaftar atas dasar urutan abjad pemakaian metode menggunakan
teknik sistematis juga dapat diterapkan. Walaupun mungkin saja terjadi bahwa
suatu nama seperti nama yang berawalan su, sri dalam bahasa Indonesia akan
terjadi pengumpulan nama dalam awalan tersebut. Sisternatis proporsional k
dapat memilih dengan baik.
6.
Teknik observasi lapangan khusus
Untuk
penelitian di lokasi tambang Pengumpulan Data penelitian Teknik ini
dilakukan dengan cara melakukan pengamatan langsung di lapangan. Mengamati
tidak hanya melihat, melainkan merekam, menghitung, mengukur, dan mencatat
kejadian yang ada di lapangan. Teknik ini ada dua macam, yaitu observasi
langsung (observasi partisipasi) yaitu apabila pengumpulan data melalui
pengamatan dan pencatatan gejalagejala pada objek yang dilakukan secara
langsung di tempat kejadian, dan observasi tidak langsung (observasi
non-partisipasi) yaitu pengumpulan data melalui pengamatan dan pencatatan
gejala-gejala pada objek tidak secara langsung di lapangan. Beberapa cara yang
biasa dilakukan dalam observasi adalah sebagai berikut:
1.
Membuat catatan anekdot (anecdotal record),
yaitu catatan informal yang digunakan pada waktu melakukan observasi.
Catatan ini berisi fenomena atau peristiwa yang terjadi saat observasi.
2.
Membuat daftar cek (checklist), yaitu
daftar yang berisi catatan setiap faktor secara sistematis. Daftar cek ini
biasanya dibuat sebelum observasi dan sesuai dengan tujuan observasi.
3.
Membuat skala penilaian (rating scale),
yaitu skala yang digunakan untuk menetapkan penilaian secara bertingkat
untuk mengamati kondisi data secara kualitiatif.
4.
Mencatat dengan menggunakan alat
(mechanical device), yaitu pencatatan yang dilakukan melalui pengamatan
dengan menggunakan alat, misalnya slide, kamera, komputer, dan alat
perekam suara. Observasi tersebut dapat terbentang mulai dari kegiatan pengumpulan data
yang formal hingga yang tidak formal. Bukti
observasi seringkali bermanfaat untuk memberikan informasi tambahan
tentang topik yang akan diteliti. Observasi dapat menambah dimensi-dimensi
baru untuk pemahaman konteks maupun fenomena yang akan diteliti. Observasi
tersebut bisa begitu berharga sehingga peneliti bisa mengambil
foto-foto pada situs studi kasus untuk menambah keabsahan penelitian
(Dabbs, 1996: 113).
No comments:
Post a Comment