1. Pengerian dan Analisi Korelasi
Sederhana dengan Rumus Pearson
Korelasi Sederhana merupakan suatu Teknik
Statistik yang dipergunakan untuk mengukur kekuatan hubungan 2 Variabel
dan juga untuk dapat mengetahui bentuk hubungan antara 2 Variabel tersebut
dengan hasil yang sifatnya kuantitatif. Kekuatan hubungan antara 2 variabel
yang dimaksud disini adalah apakah hubungan tersebut ERAT, LEMAH, ataupun
TIDAK ERAT sedangkan bentuk hubungannya adalah apakah bentuk korelasinya Linear
Positif ataupun Linear Negatif.
Disamping Korelasi, Diagram Tebar (Scatter
Diagram) sebenarnya juga dapat mempelajari hubungan 2 variabel dengan cara
menggambarkan hubungan tersebut dalam bentuk grafik. Tetapi Diagram tebar hanya
dapat memperkirakan kecenderungan hubungan tersebut apakah Linear Positif,
Linear Negatif ataupun tidak memiliki Korelasi Linear. Kelemahan Diagram Tebar
adalah tidak dapat menunjukkan secara tepat dan juga tidak dapat memberikan
angka Kuantitas tentang kekuatan hubungan antara 2 variabel yang dikaji
tersebut.
Kekuatan
Hubungan antara 2 Variabel biasanya disebut dengan Koefisien Korelasi dan
dilambangkan dengan symbol “r”. Nilai Koefisian r akan selalu berada di antara
-1 sampai +1.
Perlu
diingat :
Koefisien
Korelasi akan selalu berada di dalam Range -1 ≤ r ≤ +1
Jika
ditemukan perhitungan diluar Range tersebut, berarti telah terjadi
kesalahan perhitungan dan harus di koreksi terhadap perhitungan tersebut.
·
Rumus
Pearon Product Moment
Koefisien Korelasi Sederhana disebut juga dengan Koefisien
Korelasi Pearson karena rumus perhitungan Koefisien korelasi sederhana ini
dikemukakan oleh Karl Pearson yaitu seorang ahli Matematika yang berasal dari
Inggris.
Rumus
yang dipergunakan untuk menghitung Koefisien Korelasi Sederhana adalah sebagai
berikut : (Rumus ini disebut juga dengan Pearson Product Moment)
r
=
nΣxy – (Σx) (Σy)
. √{nΣx² – (Σx)²} {nΣy2 – (Σy)2}
. √{nΣx² – (Σx)²} {nΣy2 – (Σy)2}
Dimana
:
n
= Banyaknya Pasangan data X dan Y
Σx
= Total Jumlah dari Variabel X
Σy
= Total Jumlah dari Variabel Y
Σx2=
Kuadrat dari Total Jumlah Variabel X
Σy2=
Kuadrat dari Total Jumlah Variabel Y
Σxy=
Hasil Perkalian dari Total Jumlah Variabel X dan Variabel Y
2. Pola/Bentuk Hubungan antara 2
variabel :
1. Korelasi Linear Positif (+1)
Perubahan
salah satu Nilai Variabel diikuti perubahan Nilai Variabel yang lainnya secara
teratur dengan arah yang sama. Jika Nilai Variabel X mengalami kenaikan, maka
Variabel Y akan ikut naik. Jika Nilai Variabel X mengalami penurunan, maka
Variabel Y akan ikut turun.
Apabila
Nilai Koefisien Korelasi mendekati +1 (positif Satu) berarti pasangan data
Variabel X dan Variabel Y memiliki Korelasi Linear Positif yang kuat/Erat.
2. Korelasi Linear Negatif (-1)
Perubahan
salah satu Nilai Variabel diikuti perubahan Nilai Variabel yang lainnya secara
teratur dengan arah yang berlawanan. Jika Nilai Variabel X mengalami kenaikan,
maka Variabel Y akan turun. Jika Nilai Variabel X mengalami penurunan, maka
Nilai Variabel Y akan naik.
Apabila
Nilai Koefisien Korelasi mendekati -1 (Negatif Satu) maka hal ini menunjukan
pasangan data Variabel X dan Variabel Y memiliki Korelasi Linear Negatif yang
kuat/erat.
3. Tidak Berkorelasi (0)
Kenaikan
Nilai Variabel yang satunya kadang-kadang diikut dengan
penurunan Variabel lainnya atau kadang-kadang diikuti dengan
kenaikan Variable yang lainnya. Arah hubungannya tidak teratur, kadang-kadang
searah, kadang-kadang berlawanan.
Apabila
Nilai Koefisien Korelasi mendekati 0 (Nol) berarti pasangan data Variabel X dan
Variabel Y memiliki korelasi yang sangat lemah atau berkemungkinan tidak
berkorelasi.
Ketiga Pola atau bentuk hubungan tersebut jika di gambarkan
ke dalam Scatter Diagram (Diagram tebar) adalah sebagai berikut :
Tabel tentang Pedoman umum dalam menentukan Kriteria
Korelasi :
r
|
Kriteria Hubungan
|
0
|
Tidak
ada Korelasi
|
0
– 0.5
|
Korelasi
Lemah
|
0.5
– 0.8
|
Korelasi
sedang
|
0.8
– 1
|
Korelasi
Kuat / erat
|
1
|
Korelasi
Sempurna
|
Contoh Penggunaan Analisis
Korelasi di Produksi :
- Apakah ada hubungan antara suhu ruangan dengan jumlah cacat Produksi?
- Apakah ada hubungan antara lamanya waktu kerusakan mesin dengan jumlah cacat produksi?
- Apakah ada hubungan antara jumlah Jam lembur dengan tingkat absensi?
Contoh
Kasus Analisis Korelasi Sederhana :
Seorang
Engineer ingin mempelajari apakah adanya pengaruh Suhu Ruangan terhadap Jumlah
Cacat yang dihasilkan dan juga ingin mengetahui keeratan serta bentuk hubungan
antara dua variabel tersebut. Engineer tersebut kemudian mengambil data selama
30 hari terhadap rata-rata (mean) suhu ruangan dan Jumlah Cacat Produksi
seperti dibawah ini :
Tanggal
|
Rata-rata Suhu Ruangan
|
Jumlah Cacat
|
1
|
24
|
10
|
2
|
22
|
5
|
3
|
21
|
6
|
4
|
20
|
3
|
5
|
22
|
6
|
6
|
19
|
4
|
7
|
20
|
5
|
8
|
23
|
9
|
9
|
24
|
11
|
10
|
25
|
13
|
11
|
21
|
7
|
12
|
20
|
4
|
13
|
20
|
6
|
14
|
19
|
3
|
15
|
25
|
12
|
16
|
27
|
13
|
17
|
28
|
16
|
18
|
25
|
12
|
19
|
26
|
14
|
20
|
24
|
12
|
21
|
27
|
16
|
22
|
23
|
9
|
23
|
24
|
13
|
24
|
23
|
11
|
25
|
22
|
7
|
26
|
21
|
5
|
27
|
26
|
12
|
28
|
25
|
11
|
29
|
26
|
13
|
30
|
27
|
14
|
Penyelesaian :
Pertama-tama
hitunglah X², Y², XY dan totalnya seperti tabel dibawah ini :
Tanggal
|
Rata-rata Suhu Ruangan (X)
|
Jumlah Cacat (Y)
|
X2
|
Y2
|
XY
|
1
|
24
|
10
|
576
|
100
|
240
|
2
|
22
|
5
|
484
|
25
|
110
|
3
|
21
|
6
|
441
|
36
|
126
|
4
|
20
|
3
|
400
|
9
|
60
|
5
|
22
|
6
|
484
|
36
|
132
|
6
|
19
|
4
|
361
|
16
|
76
|
7
|
20
|
5
|
400
|
25
|
100
|
8
|
23
|
9
|
529
|
81
|
207
|
9
|
24
|
11
|
576
|
121
|
264
|
10
|
25
|
13
|
625
|
169
|
325
|
11
|
21
|
7
|
441
|
49
|
147
|
12
|
20
|
4
|
400
|
16
|
80
|
13
|
20
|
6
|
400
|
36
|
120
|
14
|
19
|
3
|
361
|
9
|
57
|
15
|
25
|
12
|
625
|
144
|
300
|
16
|
27
|
13
|
729
|
169
|
351
|
17
|
28
|
16
|
784
|
256
|
448
|
18
|
25
|
12
|
625
|
144
|
300
|
19
|
26
|
14
|
676
|
196
|
364
|
20
|
24
|
12
|
576
|
144
|
288
|
21
|
27
|
16
|
729
|
256
|
432
|
22
|
23
|
9
|
529
|
81
|
207
|
23
|
24
|
13
|
576
|
169
|
312
|
24
|
23
|
11
|
529
|
121
|
253
|
25
|
22
|
7
|
484
|
49
|
154
|
26
|
21
|
5
|
441
|
25
|
105
|
27
|
26
|
12
|
676
|
144
|
312
|
28
|
25
|
11
|
625
|
121
|
275
|
29
|
26
|
13
|
676
|
169
|
338
|
30
|
27
|
14
|
729
|
196
|
378
|
Total
|
699
|
282
|
16487
|
3112
|
6861
|
Kemudian
hitunglah Koefisien Korelasi berdasarkan rumus korelasi dibawah ini :
r
=
nΣxy – (Σx)
(Σy)
. √{nΣx² – (Σx)²} {nΣy2 – (Σy)2}
. √{nΣx² – (Σx)²} {nΣy2 – (Σy)2}
r
= (30 .
6861) – (699) (282)
. √{30. 16487 – (699)²} {30 . 3112 – (282)2}
. √{30. 16487 – (699)²} {30 . 3112 – (282)2}
r
=
(205830) – (197118)
. √{494610 – 488601} {93360 – 75924}
. √{494610 – 488601} {93360 – 75924}
r
=
8712
. 9118.13
. 9118.13
r
= 0.955
Jadi Koefisien Korelasi antara Suhu Ruangan dan Jumlah Cacat
Produksi adalah 0.955, berarti kedua variabel tersebut memiliki
hubungan yang ERAT dan bentuk hubungannya adalah Linear
Positif.
Jika Hubungan Suhu Ruangan dan Jumlah Cacat Produksi dibuat
dalam bentuk Scatter Diagram (Diagram Tebar), maka bentuknya akan seperti
dibawah ini :
Analisis
Korelasi (Correlation Analysis) juga merupakan salah satu alat (tool) yang
digunakan dalam Metodologi Six Sigma di Tahap Analisis.


No comments:
Post a Comment