NAMA : LA ODE SAHIR DS
NPM : 17 630 100
TUGAS 01 : STATISTIK/PROBABILITAS
TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL DALAM METODOLOGI PENELITIAN
Pengertian Teknik
Sampling (Pengambilan Sampel)
Teknik
sampling adalah merupakan teknik pengambilan sampel (Sugiyono, 2001: 56).
(Margono, 2004: 125) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan teknik sampling
adalah cara untuk menentukan sampel yang jumlahnya sesuai dengan ukuran sampel
yang akan dijadikan sumber data sebenarnya, dengan memperhatikan sifat-sifat
dan penyebaran populasi agar diperoleh sampel yang representatif.Untuk
menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian, terdapat berbagai
teknik sampling yang digunakan. Secara skematis, menurut (Sugiyono, 2001: 57)
teknik sampling ditunjukkan pada gambar di bawah ini.
Teknik
sampling pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu Probability
Sampling dan Nonprobability Sampling. Probability sampling meliputi: simple
random sampling, proportionate stratified random sampling, disproportionate
stratified random sampling, dan area (cluster) sampling (sampling menurut
daerah). Nonprobability sampling meliputi: sampling sistematis, sampling kuota,
sampling aksidental, purposive sampling, sampling jenuh, dan snowball sampling.
1. Probability
Sampling
(Sugiyono, 2001: 57)
menyatakan bahwa probability sampling adalah teknik sampling yang memberikan
peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi
anggota sampel. Teknik sampel ini meliputi:
a. Simple Random Sampling
Menurut (Sugiyono,
2001: 57) dinyatakan simple (sederhana) karena pengambilan sampel anggota
populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam
populasi itu. (Margono, 2004: 126) menyatakan bahwa simple random sampling
adalah teknik untuk mendapatkan sampel yang langsung dilakukan pada unit
sampling. Dengan demikian setiap unit sampling sebagai unsur populasi yang
terpencil memperoleh peluang yang sama untuk menjadi sampel atau untuk mewakili
populasi. Cara demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen.
Teknik ini dapat dipergunakan bilamana jumlah unit sampling di dalam suatu
populasi tidak terlalu besar. Misal, populasi terdiri dari 500 orang mahasiswa
program S1 (unit tampling). Untuk memperoleh sampel sebanyak 150 orang dari
populasi tersebut, digunakan teknik ini, baik dengan cara undian, ordinal,
maupun tabel bilangan random. Teknik ini dapat digambarkan di bawah ini.
b.Proportionate Stratified Random Sampling
(Margono, 2004: 126) menyatakan bahwa stratified random sampling biasa digunakan pada populasi yang mempunyai susunan bertingkat atau berlapis-lapis. Menurut (Sugiyono, 2001: 58) teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak homogen. Dan berstrata secara proporsional. Suatu organisasi yang mempunyai pegawai dari berbagai latar belakang pendidikan, maka populasi pegawai itu berstrata. Misalnya jumlah pegawai yang lulus S1 = 45, S2 = 30, STM = 800, ST = 900, SMEA = 400, SD = 300. Jumlah sampel yang harus diambil meliputi strata pendidikan tersebut yang diambil secara proporsional jumlah sampel.
b.Proportionate Stratified Random Sampling
(Margono, 2004: 126) menyatakan bahwa stratified random sampling biasa digunakan pada populasi yang mempunyai susunan bertingkat atau berlapis-lapis. Menurut (Sugiyono, 2001: 58) teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak homogen. Dan berstrata secara proporsional. Suatu organisasi yang mempunyai pegawai dari berbagai latar belakang pendidikan, maka populasi pegawai itu berstrata. Misalnya jumlah pegawai yang lulus S1 = 45, S2 = 30, STM = 800, ST = 900, SMEA = 400, SD = 300. Jumlah sampel yang harus diambil meliputi strata pendidikan tersebut yang diambil secara proporsional jumlah sampel.
c. Disproportionate
Stratified Random Sampling
(Sugiyono, 2001: 59) menyatakan bahwa teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel bila populasinya berstrata tetapi kurang proporsional. Misalnya pegawai dari PT tertentu mempunyai mempunyai 3 orang lulusan S3, 4 orang lulusan S2, 90 orang lulusan S1, 800 orang lulusan SMU, 700 orang lulusan SMP, maka 3 orang lulusan S3 dan empat orang S2 itu diambil semuanya sebagai sampel. Karena dua kelompok itu terlalu kecil bila dibandingkan denan kelompok S1, SMU dan SMP.
(Sugiyono, 2001: 59) menyatakan bahwa teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel bila populasinya berstrata tetapi kurang proporsional. Misalnya pegawai dari PT tertentu mempunyai mempunyai 3 orang lulusan S3, 4 orang lulusan S2, 90 orang lulusan S1, 800 orang lulusan SMU, 700 orang lulusan SMP, maka 3 orang lulusan S3 dan empat orang S2 itu diambil semuanya sebagai sampel. Karena dua kelompok itu terlalu kecil bila dibandingkan denan kelompok S1, SMU dan SMP.
d. Cluste Sampling
(Area Sampling)
Teknik ini disebut juga cluster random sampling. Menurut (Margono, 2004: 127), teknik ini digunakan bilamana populasi tidak terdiri dari individu-individu, melainkan terdiri dari kelompok-kelompok individu ataucluster. Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila objek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misalnya penduduk dari suatu negara, propinsi atau kabupaten. Untuk menentukan penduduk mana yang akan dijadikan sumber data, maka pengambilan sampelnya berdasarkan daerah populasi yang telah ditetapkan.
(Sugiyono, 2001: 59) memberikan contoh, di Indonesia terdapat 27 propinsi, dan sampelnya akan menggunakan 10 propinsi, maka pengambilan 10 propinsi itu dilakukan secara random. Tetapi perlu diingat, karena propinsi-propinsi di Indonesia itu berstrata maka pengambilan sampelnya perlu menggunakan stratified random sampling. Contoh lainnya dikemukakan oleh (Margono, 2004: 127). Ia mencotohkan bila penelitian dilakukan terhadap populai pelajar SMU di suatu kota. Untuk random tidak dilakukan langsung pada semua pelajar-pelajar, tetapi pada sekolah/kelas sebagai kelompok atau cluster.
Teknik sampling daerah ini sering digunakan melalui dua tahap, yaitu tahap pertama menentukan sampel daerah, dan tahap berikutnya
Teknik ini disebut juga cluster random sampling. Menurut (Margono, 2004: 127), teknik ini digunakan bilamana populasi tidak terdiri dari individu-individu, melainkan terdiri dari kelompok-kelompok individu ataucluster. Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila objek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misalnya penduduk dari suatu negara, propinsi atau kabupaten. Untuk menentukan penduduk mana yang akan dijadikan sumber data, maka pengambilan sampelnya berdasarkan daerah populasi yang telah ditetapkan.
(Sugiyono, 2001: 59) memberikan contoh, di Indonesia terdapat 27 propinsi, dan sampelnya akan menggunakan 10 propinsi, maka pengambilan 10 propinsi itu dilakukan secara random. Tetapi perlu diingat, karena propinsi-propinsi di Indonesia itu berstrata maka pengambilan sampelnya perlu menggunakan stratified random sampling. Contoh lainnya dikemukakan oleh (Margono, 2004: 127). Ia mencotohkan bila penelitian dilakukan terhadap populai pelajar SMU di suatu kota. Untuk random tidak dilakukan langsung pada semua pelajar-pelajar, tetapi pada sekolah/kelas sebagai kelompok atau cluster.
Teknik sampling daerah ini sering digunakan melalui dua tahap, yaitu tahap pertama menentukan sampel daerah, dan tahap berikutnya
Menurut (Sugiyono,
2001: 60) nonprobability sampling adalah teknik yang tidak memberi
peluang/kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk
dipilih menjadi sampel. Teknik sampel ini meliputi:
1.
Sampling Sistematis
Pengertian Sampling Sistematis atau Definisi Sampling
Sistematis adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan
urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut.Contoh
Sampling Sistematis, anggota populasi yang terdiri dari 100 orang, dari
semua semua anggota populasi itu diberi nomor urut 1 sampai 100. Pengambilan
sampel dapat dilakukan dengan mengambil nomor ganjil saja, genap saja, atau
kelipatan dari bilangan tertentu, misalnya kelipatan dari bilangan lima. Untuk
itu maka yang diambil sebagai sampel adalah nomor urut 1, 5, 10, 15, 20 dan
seterusnya sampai 100.
2.
Sampling Kuota
Pengertian Sampling Kuota atau Definisi Sampling Kuota
adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai
ciri-ciri tertentu sampai jumlah kuota yang diinginkan.Contoh Sampling Kuota,
akan melakukan penelitian tentang Karies Gigi, jumlah sampel yang
ditentukan 500 orang, jika pengumpulan data belum memenuhi kuota 500 orang
tersebut, maka penelitian dipandang belum selesai. Bila pengumpulan data
dilakukan secara kelompok yang terdiri atas 5 orang pengumpul data, maka setiap
anggota kelompok harus dapat menghubungi 100 orang anggota sampel, atau 5 orang
tersebut harus dapat mencari data dari 500 anggota sampel.
3.
Sampling Insidental
Pengertian Sampling Insidental atau Definisi Sampling
Insidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu
siapa saja yang secara kebetulan atau insidental bertemu dengan peneliti dapat
digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok
sebagai sumber data.
4.
Purposive Sampling
Pengertian Purposive Sampling atau Definisi Purposive
Sampling adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan
tertentu. Contoh Purposive Sampling, akan melakukan penelitian tentang
kualitas makanan, maka sampel sumber datanya adalah orang yang ahli makanan. Sampel
ini lebih cocok digunakan untuk Penelitian Kualitatif atau penelitian
yang tidak melakukan generalisasi.
5.
Sampling Jenuh (Sensus)
Pengertian Sampling Jenuh atau Definisi Sampling Jenuh
adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan
sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil,
kurang dari 30 orang, atau penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan
kesalahan yang sangat kecil.
6.
Snowball Sampling
Pengertian Snowball Sampling atau Definisi Snowball
Sampling adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil,
kemudian membesar. Ibarat bola salju yang menggelinding yang
lama-lama menjadi besar. Dalam penentuan sampel, pertama-tama dipilih satu atau
dua orang sampel, tetapi karena dengan dua orang sampel ini belum merasa
lengkap terhadap data yang diberikan, maka peneliti mencari orang lain yang
dipandang lebih tahu dan dapat melengkapi data yang diberikan oleh dua orang
sampel sebelumnya. Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin banyak.
Pada penelitian kualitatif banyak menggunakan sampel Purposive dan Snowball.
Contohnya akan meneliti siapa provokasi kerusuhan, maka akan cocok
menggunakan Purposive Sampling dan Snowball Sampling.
Cara Pengambilan Sampel dengan Probabilitas Sampling Ada empat macam
teknik pengambilan sampel yang termasuk dalam teknik pengambilan sampel dengan
probabilitas sampling. Keempat teknik tersebut, yaitu cara acak, stratifikasi,
klaster, dan sistematis.
Teknik memilih secara acak dapat dilakukan baik dengan manual
atau tradisional maupun dengan menggunakan tabel random.
1.
Cara Tradisional
Cara tradisional ini dapat dilihat dalam kumpulan ibu-ibu ketika
arisan. Teknik acak ini dapat dilakukan dengan langkah-langkah seperti berikut:
1.
Tentukan jumlah populasi
yang dapat ditemui
2.
Daftar semua anggota dalam
populasi, masukkan dalam kotak yang telah diberi lubang penarikan
3.
Kocok kotak tersebut dan
keluarkan lewat lubang pengeluaran yang telah dibuat
4.
Nomor anggota yang keluar
adalah mereka yang ditunjuk sebagai sampel penelitian
5. Lakukan terus sampai jumlah yang diinginkan dapat dicapai.
2.
Menggunakan Tabel Acak
Pada cara kedua ini, proses pemilihan subjek dilakukan dengan
menggunakan tabel yang dihasilkan oleh komputer dan telah diakui manfaatnya
dalam teori penelitian. Tabel tersebut umumnya terdiri dari kolom dan angka
lima digit yang telah secara acak dihasilkan oleh komputer.
Dengan menggunakan tabel tersebut, angka-angka yang ada
digunakan untuk memilih sampel dengan langkah sebagai berikut:
1.
identifikasi jumlah total
populasi
2.
tentukan jumlah sampel
yang diinginkan
3.
daftar semua anggota yang
masuk sebagai populasi
4.
berikan semua anggota
dengan nomor kode yang diminta, misalnya: 000-299 untuk populasi yang berjumlah
300 orang, atau 00-99 untuk jumlah populasi 100 orang
5.
pilih secara acak
(misalnya tutup mata) dengan menggunakan penunjuk pada angka yang ada dalam
tabel
6.
pada angka-angka yang
terpilih, lihat hanya angka digit yang tepat yang dipilih. Jika populasi 500
maka hanya 3 digit dari akhir saja. Jika populasi mempunyai anggota 90 maka
hanya diperlukan dua digit dari akhir saja
7.
jika angka dikaitkan
dengan angka terpilih untuk individual dalam populasi menjadi individu dalam
sampel. Sebagai contoh, jika populasinya berjumlah 500, maka angka terpilih 375
masuk sebagai individu sampel. Sebaliknya jika populasi hanya 300, maka angka
terpilih 375 tidak termasuk sebagai individu sampel
8.
gerakan penunjuk dalam
kolom atau angka lain
9.
ulangi langkah nomor 8
sampai jumlah sampel yang diinginkan tercapai. Ketika jumlah sampel yang
diinginkan telah tercapai maka langkah selanjutnya adalah membagi dalam
kelompok kontrol dan kelompok perlakuan sesuai dengan bentuk desain penelitian.
Contoh Memilih Sampel dengan Sampling Acak Seorang kepala
sekolah ingin melakukan studi terhadap para siswa yang ada di sekolah. Populasi
siswa SMK ternyata jumlahnya 600 orang. Sampel yang diinginkan adalah 10% dari
populasi. Dia ingin menggunakan teknik acak, untuk mencapai hal itu, dia
menggunakan langkah-langkah untuk memilih sampel seperti berikut. Populasi yang
jumlahnya 600 orang diidentifikasi. Sampel yang diinginkan 10% x 600 = 60
orang. Populasi didaftar dengan diberikan kode dari 000-599. Tabel acak yang
berisi angka random digunakan untuk memilih data dengan menggerakkan data
sepanjang kolom atau baris dari tabel. Misalnya diperoleh sederet angka seperti
berikut: 058 710 859 942 634 278 708 899 Oleh karena jumlah populasi 600 orang
maka dua angka terpilih menjadi sampel yaitu: 058 dan 278. Coba langkah d
sampai diperoleh semua jumlah 60 responden.
3.
Teknik Stratifikasi
Dalam penelitian pendidikan maupun penelitian sosial lainnya,
sering kali ditemui kondisi populasi yang ada terdiri dari beberapa lapisan
atau kelompok individual dengan karakteristik berbeda. Di sekolah, misalnya ada
kelas satu, kelas dua, dan kelas tiga. Mereka juga dapat dibedakan menurut
jenis kelamin responden menjadi kelompok laki-laki dan kelompok perempuan. Di
masyarakat, populasi dapat berupa kelompok masyarakat, misalnya petani,
pedagang, pegawai negeri, pegawai swasta, dan sebagainya. Keadaan populasi yang
demikian akan tidak tepat dan tidak terwakili; jika digunakan teknik acak.
Karena hasilnya mungkin satu kelompok terlalu banyak yang terpilih sebagai
sampel, sebaliknya kelompok lain tidak terwakili karena tidak muncul dalam
proses pemilihan.
Teknik yang paling tepat dan mempunyai akurasi tinggi adalah
teknik sampling dengan cara stratifikasi. Teknik stratifikasi ini harus
digunakan sejak awal, ketika peneliti mengetahui bahwa kondisi populasi terdiri
atas beberapa anggota yang memiliki stratifikasi atau lapisan yang berbeda
antara satu dengan lainnya. Ketepatan teknik stratifikasi juga lebih dapat
ditingkatkan dengan menggunakan proporsional besar kecilnya anggota lapisan
dari populasi ditentukan oleh besar kecilnya jumlah anggota populasi dalam
lapisan yang ada.
Seperti halnya teknik memilih sampel secara acak, teknik
stratifikasi juga mempunyai langkah-langkah untuk menentukan sampel yang
diinginkan. Langkah-langkah tersebut dapat dilihat seperti berikut :
Identifikasi jumlah total populasi. Tentukan jumlah sampel yang diinginkan.
Daftar semua anggota yang termasuk sebagai populasi. Pisahkan anggota populasi
sesuai dengan karakteristik lapisan yang dimiliki. Pilih sampel dengan
menggunakan prinsip acak seperti yang telah dilakukan dalam teknik random di
atas. Lakukan langkah pemilihan pada setiap lapisan yang ada. Sampai jumlah
sampel dapat dicapai.
Contoh menentukan sampel dengan teknik stratifikasi Seorang
peneliti ingin melakukan studi dari suatu populasi guru SMK yang jumlahnya 900
orang, sampel yang diinginkan adalah 10% dari populasi. Dalam anggota populasi
ada tiga lapisan guru, mereka adalah yang mempunyai golongan dua, golongan
tiga, dan golongan empat. Dia ingin memilih sampel dengan menggunakan teknik
stratifikasi. Terangkan langkah-langkah guna mengambil sampel dengan
menggunakan teknik stratifikasi tersebut. Jawabannya adalah sebagai berikut.
Jumlah total populasi adalah 900 orang. Daftar semua anggota yang termasuk
sebagai populasi dengan nomor 000-899. Bagi populasi menjadi tiga lapis, dengan
setiap lapis terdiri 300 orang. Undilah sampel yang diinginkan 30% x 900 = 270
orang. Setiap lapis mempunyai anggota 90 orang. untuk lapisan pertama gerakan
penunjuk (pensil) dalam tabel acak. Dan pilih dari angka tersebut dan ambil
yang memiliki nilai lebih kecil dari angka 899 sampai akhirnya diperoleh 90
subjek. Lakukan langkah 6 dan 7 untuk Iapis kedua dan ketiga sampai total
sampel diperoleh jumlah 270 orang.
4.
Teknik Klaster
Teknik klaster merupakan teknik memilih sampel lainnya dengan
menggunakan prinsip probabilitas. Teknik ini mempunyai sedikit perbedaan jika
dibandingkan dengan kedua teknik yang telah dibahas di atas. Teknik klaster
atau Cluster Sam¬pling ini memilih sampel bukan didasarkan pada individual,
tetapi lebih didasarkan pada kelompok, daerah, atau kelompok subjek yang secara
alami berkumpul bersama. Teknik klaster sering digunakan oleh para peneliti di
lapangan yang wilayahnya mungkin luas. Dengan menggunakan teknik klaster ini,
mereka lebih dapat menghemat biaya dan tenaga dalam menemui responden yang
menjadi subjek atau objek penelitian.
Memilih sampel dengan menggunakan teknik klaster ini mempunyai
beberapa langkah seperti berikut:
1.
Identifikasi populasi yang
hendak digunakan dalam studi
2.
Tentukan besar sampel yang
diinginkan.
3.
Tentukan dasar logika
untuk menentukan klaster.
4.
Perkirakan jumlah
rata-rata subjek yang ada pada setiap klaster.
5.
Daftar semua subjek dalam
setiap klaster dengan membagi antara jurnlah sampel dengan jumlah klaster yang
ada.
6.
Secara random, pilih
jumlah angggota sampel yang diinginkan untuk setiap klaster.
7.
Jumlah sampel adalah
jumlah klaster dikalikan jumlah anggota populasi per klaster.
Contoh terapan pemilihan sampel dengan menggunakan teknik
klasterMisalkan seorang peneliti hendak melakukan studi pada populasi yang
jumlahnya 4.000 guru dalam 100 sekolah yang ada. `Sampel yang diinginkan adalah
400 orang. Cara yang digunakan adalah teknik sampel secara klaster dengan
sekolah sebagai dasar penentuan logis klaster yang ada. Bagaimanakah langkah
menentukan sampel tersebut?
Jawabannya adalah sebagai berikut. Total populasi adalah 4.000
orang. Jumlah sampel yang diinginkan 400 orang. Dasar logis klaster adalah
sekolah yang jumlahnya ada 100. Dalam populasi, setiap sekolah adalah 4.000/100
= 40 guru setiap sekolah. Jumlah klaster yang ada adalah 400/40 = 10. Oleh
karena itu, 10 sekolah di antara 100 sekolah dipilih secara random. Jadi, semua
guru yang ada dalam 10 sekolah sama dengan jumlah sampel yang diinginkan.
5.
Teknik Secara Sistematis
Teknik memilih sampel yang keempat adalah teknik sistematis atau
systematic sampling. Teknik pemilihan ini menggunakan prinsip proporsional.
Caranya ialah dengan menentukan pilihan sampel pada setiap 1/k, di mana k
adalah suatu angka pembagi yang telah ditentukan misalnya 5,6 atau 10. Syarat
yang perlu diperhatikan oleh para peneliti adalah adanya daftar atau list semua
anggota populasi. Untuk populasi yang didaftar atas dasar urutan abjad
pemakaian metode menggunakan teknik sistematis juga dapat diterapkan. Walaupun
mungkin saja terjadi bahwa suatu nama seperti nama yang berawalan su, sri dalam
bahasa Indonesia akan terjadi pengumpulan nama dalam awalan tersebut.
Sisternatis proporsional k dapat memilih dengan baik.
6.
Teknik observasi lapangan
khusus
Untuk penelitian di lokasi tambang Pengumpulan
Data penelitian Teknik ini dilakukan dengan cara melakukan pengamatan
langsung di lapangan. Mengamati tidak hanya melihat, melainkan merekam,
menghitung, mengukur, dan mencatat kejadian yang ada di lapangan. Teknik
ini ada dua macam, yaitu observasi langsung (observasi partisipasi) yaitu
apabila pengumpulan data melalui pengamatan dan pencatatan gejalagejala pada
objek yang dilakukan secara langsung di tempat kejadian, dan observasi tidak
langsung (observasi non-partisipasi) yaitu pengumpulan data melalui pengamatan
dan pencatatan gejala-gejala pada objek tidak secara langsung di lapangan.
Beberapa cara yang biasa dilakukan dalam observasi adalah sebagai berikut:
1.
Membuat catatan anekdot (anecdotal record),
yaitu catatan informal yang digunakan pada waktu melakukan observasi.
Catatan ini berisi fenomena atau peristiwa yang terjadi saat observasi.
2.
Membuat daftar cek
(checklist), yaitu daftar yang berisi catatan setiap faktor secara
sistematis. Daftar cek ini biasanya dibuat sebelum observasi dan sesuai
dengan tujuan observasi.
3.
Membuat skala penilaian
(rating scale), yaitu skala yang digunakan untuk menetapkan penilaian
secara bertingkat untuk mengamati kondisi data secara kualitiatif.
4.
Mencatat dengan
menggunakan alat (mechanical device), yaitu pencatatan yang dilakukan
melalui pengamatan dengan menggunakan alat, misalnya slide, kamera,
komputer, dan alat perekam suara. Observasi tersebut dapat terbentang mulai
dari kegiatan pengumpulan data yang formal hingga yang tidak
formal. Bukti observasi seringkali bermanfaat untuk memberikan
informasi tambahan tentang topik yang akan diteliti. Observasi dapat
menambah dimensi-dimensi baru untuk pemahaman konteks maupun fenomena yang
akan diteliti. Observasi tersebut bisa begitu berharga sehingga
peneliti bisa mengambil foto-foto pada situs studi kasus untuk
menambah keabsahan penelitian (Dabbs, 1996: 113).
No comments:
Post a Comment